Minggu, 07 April 2019

MANFAAT EKONOMI KOMODITI KEHUTANAN


POHON PUSPA  (Schima wallichii)
OLEH : Nur Hidayat

Di Indonesia Puspa digunakan sebagai tanaman pelindung di hutan dan reklamasi lahan serta digunakan untuk reboisasi. Puspa dapat dijadikan sebagai tanaman revegetasi karena mampu tumbuh pada berbagai kondisi tanah, iklim dan habitat, puspa juga resisten terhadap kebakaran. Puspa secara ilmiah dikenal dengan nama Schima wallichii yang termasuk dalam famili Theaceae. Puspa dimanfaatkan untuk bahan dalam pembuatan rumah, penghasil kayu bakar yang baik, pembuatan kertas, dan penghasil zat pewarna. Daun Puspa digunakan untuk pakan ternak, mahkota bunga dan buahnya setelah dikeringkan diolah menjadi jamu.



Klasifikasi Puspa (Schima wallichii (DC.) Korth) Pohon puspa yang berasal dari famili Theaceae merupakan jenis kayu pertukangan. Puspa memiliki nama daerah simar tolu, madang bungkar (Sumatra), huru manuk (sunda), seru (Jawa), merang surau (Kalimantan). Klasifikasinya adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Theales
Famili : Theaceae
Genus : Schima
Spesies : S. wallichii (DC.) Korth.
Puspa mampu hidup pada berbagai kondisi tanah, iklim, dan habitat. Tumbuh melimpah di hutan primer dataran rendah hingga pegunungan, pohon ini juga umum dijumpai di hutan-hutan sekunder dan wilayah yang terganggu, bahkan juga di padang ilalang. Bisa hidup hingga ketinggian 5−3.900 m dpl. Puspa tidak memilih-milih kondisi tekstur dan kesuburan tanah. Meski lebih menyukai tanah yang berdrainase baik, pohon puspa diketahui mampu tumbuh baik di daerah rawa dan tepian sungai. Puspa merupakan tumbuhan asli di India, Nepal, Burma, Cina, Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, Indonesia, Brunei, Filipina, dan Papua Nugini, sedangkan di Indonesia pohon puspa memiliki tempat tumbuh di daerah Pulau jawa, Pulau sumatera, pulau Kalimantan. Penyebaran secara alami di Indonesia terutama terdapat di Jawa Barat. Tumbuhan ini berkelompok membentuk hutan primer maupun hutan sekunder, kadang-kadang tersebar di daerah yang selalu lembab. Di Jawa Barat sering kali terdapat pada ketinggian 100−1500 m dpl.
Puspa memiliki 9 sub spesies, di antaranya bacana, noronhae, tetapi antar sub spesies tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok. Lingkaran tumbuh tidak teratur, berganti-ganti sempit dan lebar, batas lingkaran tumbuh kabur, pori-pori tidak teratur rapih. Susunan antara dua jari-jari kayu terdapat dua pertiga pori-pori merupakan beberapa ciri dari kayu puspa (Gambar 1a). Pohon puspa bisa mencapai tinggi ± 47 meter, dengan diameter batang dapat mencapai 127 cm, kadang-kadang memiliki banir 1.8 meter, berdaun tunggal berbentuk lanset dengan ukuran 2.5−30 cm x 1.5−10 cm, pangkal dan ujung daunnya meruncing. Daun muda puspa umumnya berwarna merah, merah muda, dan atau ungu. Bunganya soliter atau tandan terdapat pada ketiak dan termasuk pohon yang berbunga sepanjang tahun. Buah puspa berbentuk bulat, diameter mampu mencapai 0.5 sampai 2.5 cm. Pohon puspa ini juga memiliki biji yang berbentuk ginjal dengan ukuran 6−12 cm x 3−7cm (Gambar pohon puspa).

      








 Perbanyakan bibit tanaman Puspa dilakukan dengan menggunakan biji ataupun anakan/semai alam. Teknik perbanyakan menggunakan anakan dapat dilakukan melalui teknik puteran atau cabutan. Namun cara ini membutuhkan waktu yang cukup lama dalam pengadaan bibit. Seiring dengan kemajuan teknologi, teknik kultur jaringan menjadi alternatif dalam perbanyakan tanaman Puspa karena menghasilkan banyak bibit yang unggul dan seragam dalam waktu yang singkat.
Kayu puspa merupakan kayu pertukangan yang bermutu baik dan sering digunakan sebagai bahan bangunan. Kayu ini dianggap lebih baik dijadikan sebagai tiang penyangga rumah, kusen pintu, panil kayu, lantai rumah, perabotan rumah tangga, dan bahan pembuat perahu. Kayu puspa juga baik sebagai kayu lapis, dan papan serat. Pohon puspa biasa diambil kayunya untuk bahan-bahan bangunan atau memanfaatkan kayunya. Ternyata daun puspa muda dapat dimanfaatkan untuk mengatasi nyeri waktu haid. Schima wallichii itulah nama ilmiah dari tumbuhan puspa, daunnya berwarna hijau dan kemerahan, termasuk tanaman keluarga teh. Daun puspa yang masih muda menyerupai tanaman teh, dengan buah berbentuk menyerupai kapsul, secara botani daun dan bunga puspa mengandung glikosida dan saponin tritepen. Senyawa itu mampu menghasilkan gula dan dapat penawar racun.
Sebagai tanaman kayu, puspa ternyata menghasilkan zat warna merah kecoklatan. Kandungan tannin yang dimiliki daun puspa juga mengandung zat kimia yang bisa digunakan untuk bahan campuran dalam proses penyamakan kulit, senyawa yang dimiliki daun puspa mengandung unsur antiperadangan. Keringkan dahulu buah puspa, setelah itu buah puspa dan mahkota bunga bisa dimanfaatkan sebagai ramuan untuk mengobati penyakit rahim dan nyeri perut . Sementara daun puspa berkhasiat mengatasi nyeri perut dan diare, kulit batang daun puspa juga bisa untuk mengobati gangguan perut.
Ekstrak senyawa lainnya memiliki sifat antiinflamasi yang baik untuk mengobati luka dalam atau juga peradangan selama masa haid, maupun gangguan perut lainnya. Cara penggunaannya, Pakailah beberapa lembar daun puspa muda dan bunga kuncupnya, kemudian rebus dengan air secukupnya, lalu bisa diminum. Puspa tumbuh pada tanah kering dan tidak memilih keadaan tekstur dan kesuburan tanah, sehingga baik untuk reboisasi padang alang-alang, belukar dan tanah kritis. Jenis ini memerlukan iklim basah sampai agak kering dengan tipe curah hujan A - C, pada dataran rendah sampai didaerah pegunungan dengan ketinggian sampai 1.000 m di atas permukaan laut Sumatera, Jawa, Kalimantan Kayu bangunan, plywood, lantai, papan, tiang listrik/telepon, kayu perkapalan. Daun bisa digunakan sebagai obat.
Puspa terutama dihargai karena kayunya yang bermutu baik sebagai bahan ramuan rumah. Kayu ini lebih cocok dipakai sebagai balok dan tiang-tiang rumah dan jembatan daripada diwujudkan menjadi papan, karena papan kayu puspa cenderung bengkok atau melenting. Kayu puspa sebaiknya digunakan di bawah atap, misalnya sebagai tiang dan balok penyangga, kusen-kusen pintu atau jendela, panil kayu, lantai rumah, perkakas dan perabotan rumah, peralatan pertanian, ramuan perahu (di babak dalam dan terlindung), kotak dan peti pengemas. Kayu puspa juga baik untuk membikin kayu lapis, papan serat, dan –setelah diawetkan– untuk bantalan rel kereta api.
Sifat-sifat kayu






Tumbuh di padang ilalang
Kayu terasnya berwarna coklat kemerahan atau coklat kelabu; gubalnya berwarna lebih belia dan tidak mempunyai batasan yang terang dengan kayu teras. Teksturnya halus dan permukaan kayunya licin, dengan arah serat lurus atau berpadu. Kayu ini termasuk agak keras; dengan berat jenis yang berkisar selang 0,45 (subsp. noronhae) hingga 0,92 (subsp. oblata), kayu puspa termasuk ke dalam kelas kuat II. Secara umum, puspa digolongkan ke dalam kelas awet III. Beliau menyampai tahan terhadap serangan rayap kayu kering (kelas II), namun kurang tahan terhadap jamur pelapuk kayu (kelas III-IV). Namun, kayu ini termasuk gampang diawetkan.
Kayu puspa juga gampang dikerjakan. Dapat dibubut, diserut, dibor, diamplas, dan dipelitur dengan hasil baik. Dapat diwujudkan menjadi venir tanpa perlakuan pendahuluan, namun venirnya bergelombang setelah kering. Pengeringan kayu puspa memang dikenal sulit; lambat mengering dan gampang mengalami perubahan wujud seperti pencekungan dan pemilinan serta pecah pada mata kayu. Kembang susut kayu ini termasuk besar dan gampang retak. Penyusutan kayu hingga kering tanur pada arah radial sebesar 4,7–4,8%, sedangkan pada arah tangensial berkisar selang 8,6–10,6%.
Puspa membikin kayu bakar yang berkualitas baik; energi yang didapat dari kayu gubalnya sekitar 19.980 kJ/kg. Kayu puspa juga baik untuk menjadi pulp dan kertas. Pepagannya membikin zat pewarna, tanin yang terkandung di dalamnya digunakan untuk menyamak kulit. Dipakai untuk menuba ikan di Jawa Barat; dilaporkan bahwa pepagan puspa memuat semacam glikosida seperti saponin. Daunnya, di Nepal, dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Mahkota bunganya dan buahnya, setelah dikeringkan, dimanfaatkan sebagai jamu dan dijual di pasar sebagai cangkok atau buah cangkok. Ramuan yang bersifat astringensia ini digunakan untuk mengobati penyakit rahim dan histeria. Di timur-laut India, penanaman puspa dikombinasikan dengan kapulaga dalam suatu sistem wanatani untuk melindungi tanah dan air. Di negara ini, puspa juga digunakan sebagai pohon penaung di perkebunan kopi. Di Indonesia, puspa digunakan sebagai pelindung di hutan tanaman tusam dan damar. Selain itu, puspa juga baik untuk reklamasi lahan dan reboisasi daerah tangkapan air.


Referensi:
http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/biogenesisDOI https://doi.org/10.24252/bio.v6i1.3946

Tidak ada komentar:

Posting Komentar