POHON PUSPA (Schima wallichii)
OLEH : Nur Hidayat
Di
Indonesia Puspa digunakan sebagai tanaman pelindung di hutan dan reklamasi
lahan serta digunakan untuk reboisasi. Puspa dapat dijadikan sebagai tanaman
revegetasi karena mampu tumbuh pada berbagai kondisi tanah, iklim dan habitat,
puspa juga resisten terhadap kebakaran. Puspa secara ilmiah dikenal dengan nama
Schima wallichii yang termasuk dalam
famili Theaceae. Puspa dimanfaatkan
untuk bahan dalam pembuatan rumah, penghasil kayu bakar yang baik, pembuatan
kertas, dan penghasil zat pewarna. Daun Puspa digunakan untuk pakan ternak,
mahkota bunga dan buahnya setelah dikeringkan diolah menjadi jamu.
Klasifikasi
Puspa (Schima wallichii (DC.) Korth) Pohon puspa yang berasal dari famili
Theaceae merupakan jenis kayu pertukangan. Puspa memiliki nama daerah simar
tolu, madang bungkar (Sumatra), huru manuk (sunda), seru (Jawa), merang surau
(Kalimantan). Klasifikasinya adalah sebagai berikut:
Kingdom :
Plantae
Divisi :
Spermatophyta
Kelas :
Magnoliopsida
Ordo
: Theales
Famili
: Theaceae
Genus
: Schima
Spesies
: S. wallichii (DC.) Korth.
Puspa mampu
hidup pada berbagai kondisi tanah, iklim, dan habitat. Tumbuh melimpah di hutan
primer dataran rendah hingga pegunungan, pohon ini juga umum dijumpai di hutan-hutan
sekunder dan wilayah yang terganggu, bahkan juga di padang ilalang. Bisa hidup
hingga ketinggian 5−3.900 m dpl. Puspa tidak memilih-milih kondisi tekstur dan
kesuburan tanah. Meski lebih menyukai tanah yang berdrainase baik, pohon puspa
diketahui mampu tumbuh baik di daerah rawa dan tepian sungai. Puspa merupakan
tumbuhan asli di India, Nepal, Burma, Cina, Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia,
Indonesia, Brunei, Filipina, dan Papua Nugini, sedangkan di Indonesia pohon
puspa memiliki tempat tumbuh di daerah Pulau jawa, Pulau sumatera, pulau
Kalimantan. Penyebaran secara alami di Indonesia terutama terdapat di Jawa
Barat. Tumbuhan ini berkelompok membentuk hutan primer maupun hutan sekunder,
kadang-kadang tersebar di daerah yang selalu lembab. Di Jawa Barat sering kali
terdapat pada ketinggian 100−1500 m dpl.
Puspa memiliki 9
sub spesies, di antaranya bacana, noronhae, tetapi antar sub spesies tersebut
tidak menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok. Lingkaran tumbuh tidak
teratur, berganti-ganti sempit dan lebar, batas lingkaran tumbuh kabur,
pori-pori tidak teratur rapih. Susunan antara dua jari-jari kayu terdapat dua
pertiga pori-pori merupakan beberapa ciri dari kayu puspa (Gambar 1a). Pohon
puspa bisa mencapai tinggi ± 47 meter, dengan diameter batang dapat mencapai
127 cm, kadang-kadang memiliki banir 1.8 meter, berdaun tunggal berbentuk
lanset dengan ukuran 2.5−30 cm x 1.5−10 cm, pangkal dan ujung daunnya
meruncing. Daun muda puspa umumnya berwarna merah, merah muda, dan atau ungu.
Bunganya soliter atau tandan terdapat pada ketiak dan termasuk pohon yang
berbunga sepanjang tahun. Buah puspa berbentuk bulat, diameter mampu mencapai
0.5 sampai 2.5 cm. Pohon puspa ini juga memiliki biji yang berbentuk ginjal
dengan ukuran 6−12 cm x 3−7cm (Gambar pohon puspa).
Kayu puspa
merupakan kayu pertukangan yang bermutu baik dan sering digunakan sebagai bahan
bangunan. Kayu ini dianggap lebih baik dijadikan sebagai tiang penyangga rumah,
kusen pintu, panil kayu, lantai rumah, perabotan rumah tangga, dan bahan
pembuat perahu. Kayu puspa juga baik sebagai kayu lapis, dan papan serat. Pohon
puspa biasa diambil kayunya untuk bahan-bahan bangunan atau memanfaatkan
kayunya. Ternyata daun puspa muda dapat dimanfaatkan untuk mengatasi nyeri
waktu haid. Schima wallichii itulah nama ilmiah dari tumbuhan puspa, daunnya
berwarna hijau dan kemerahan, termasuk tanaman keluarga teh. Daun puspa yang
masih muda menyerupai tanaman teh, dengan buah berbentuk menyerupai kapsul,
secara botani daun dan bunga puspa mengandung glikosida dan saponin tritepen.
Senyawa itu mampu menghasilkan gula dan dapat penawar racun.
Sebagai tanaman
kayu, puspa ternyata menghasilkan zat warna merah kecoklatan. Kandungan tannin
yang dimiliki daun puspa juga mengandung zat kimia yang bisa digunakan untuk
bahan campuran dalam proses penyamakan kulit, senyawa yang dimiliki daun puspa
mengandung unsur antiperadangan. Keringkan dahulu buah puspa, setelah itu buah
puspa dan mahkota bunga bisa dimanfaatkan sebagai ramuan untuk mengobati
penyakit rahim dan nyeri perut . Sementara daun puspa berkhasiat mengatasi
nyeri perut dan diare, kulit batang daun puspa juga bisa untuk mengobati
gangguan perut.
Ekstrak senyawa
lainnya memiliki sifat antiinflamasi yang baik untuk mengobati luka dalam atau
juga peradangan selama masa haid, maupun gangguan perut lainnya. Cara penggunaannya,
Pakailah beberapa lembar daun puspa muda dan bunga kuncupnya, kemudian rebus
dengan air secukupnya, lalu bisa diminum. Puspa tumbuh pada tanah kering dan
tidak memilih keadaan tekstur dan kesuburan tanah, sehingga baik untuk
reboisasi padang alang-alang, belukar dan tanah kritis. Jenis ini memerlukan
iklim basah sampai agak kering dengan tipe curah hujan A - C, pada dataran
rendah sampai didaerah pegunungan dengan ketinggian sampai 1.000 m di atas
permukaan laut Sumatera, Jawa, Kalimantan Kayu bangunan, plywood, lantai,
papan, tiang listrik/telepon, kayu perkapalan. Daun bisa digunakan sebagai obat.
Puspa terutama
dihargai karena kayunya yang bermutu baik sebagai bahan ramuan rumah. Kayu ini
lebih cocok dipakai sebagai balok dan tiang-tiang rumah dan jembatan daripada
diwujudkan menjadi papan, karena papan kayu puspa cenderung bengkok atau
melenting. Kayu puspa sebaiknya digunakan di bawah atap, misalnya sebagai tiang
dan balok penyangga, kusen-kusen pintu atau jendela, panil kayu, lantai rumah,
perkakas dan perabotan rumah, peralatan pertanian, ramuan perahu (di babak
dalam dan terlindung), kotak dan peti pengemas. Kayu puspa juga baik untuk
membikin kayu lapis, papan serat, dan –setelah diawetkan– untuk bantalan rel kereta api.
Sifat-sifat kayu
Tumbuh di padang ilalang
Kayu terasnya berwarna
coklat kemerahan atau coklat kelabu; gubalnya berwarna lebih belia dan tidak
mempunyai batasan yang terang dengan kayu teras. Teksturnya halus dan permukaan
kayunya licin, dengan arah serat lurus atau berpadu. Kayu ini termasuk agak
keras; dengan berat jenis yang
berkisar selang 0,45 (subsp. noronhae) hingga
0,92 (subsp. oblata), kayu puspa termasuk ke dalam kelas kuat II. Secara
umum, puspa digolongkan ke dalam kelas awet III. Beliau menyampai tahan
terhadap serangan rayap kayu kering (kelas II), namun kurang tahan terhadap
jamur pelapuk kayu (kelas III-IV). Namun, kayu ini termasuk gampang diawetkan.
Kayu puspa juga
gampang dikerjakan. Dapat dibubut, diserut, dibor, diamplas, dan dipelitur
dengan hasil baik. Dapat diwujudkan menjadi venir tanpa perlakuan pendahuluan,
namun venirnya bergelombang setelah kering. Pengeringan kayu puspa memang
dikenal sulit; lambat mengering dan gampang mengalami perubahan wujud seperti
pencekungan dan pemilinan serta pecah pada mata kayu. Kembang susut kayu ini
termasuk besar dan gampang retak. Penyusutan kayu hingga kering tanur pada arah
radial sebesar 4,7–4,8%, sedangkan pada arah tangensial berkisar selang
8,6–10,6%.
Puspa membikin kayu bakar yang berkualitas baik; energi
yang didapat dari kayu gubalnya sekitar 19.980 kJ/kg. Kayu puspa juga baik untuk menjadi pulp dan kertas. Pepagannya membikin zat pewarna, tanin yang terkandung di dalamnya digunakan
untuk menyamak kulit. Dipakai untuk menuba ikan di Jawa Barat; dilaporkan bahwa pepagan puspa memuat
semacam glikosida seperti saponin. Daunnya, di Nepal, dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Mahkota
bunganya dan buahnya, setelah dikeringkan, dimanfaatkan sebagai jamu dan dijual
di pasar sebagai cangkok atau buah cangkok. Ramuan yang bersifat
astringensia ini digunakan untuk mengobati penyakit rahim dan histeria. Di
timur-laut India, penanaman puspa dikombinasikan dengan
kapulaga dalam suatu sistem wanatani untuk melindungi tanah dan air. Di
negara ini, puspa juga digunakan sebagai pohon penaung di perkebunan kopi. Di Indonesia, puspa digunakan sebagai pelindung di hutan
tanaman tusam dan damar. Selain itu, puspa juga baik untuk reklamasi
lahan dan reboisasi daerah tangkapan air.
Referensi:
http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/biogenesis/article/view/3946
http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/1033
http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/biogenesisDOI
https://doi.org/10.24252/bio.v6i1.3946
Tidak ada komentar:
Posting Komentar