Kamis, 20 Maret 2025

Riview Jurnal Penilaian Ekosistem Hutan

 

Tugas Riview Jurnal Penilaian Ekosistem Hutan                                                       Medan, Maret 2025

 

Spatio-Temporal Analysis of Erosion Risk Assessment Using GIS-Based AHP Method: A Case Study of Doğancı Dam Watershed in Bursa (Türkiye)

(Analisis Spatio-Temporal Penilaian Risiko Erosi Menggunakan Metode AHP Berbasis GIS: Studi Kasus DAS Bendungan Doğancı di Bursa (Türkiye) 

Erdoğan Yüksel, E., Karan, Ö. F., & Akay, A. E. (2024). Spatio-Temporal Analysis of Erosion Risk Assessment Using GIS-Based AHP Method: A Case Study of Doğancı Dam Watershed in Bursa (Türkiye). Forests, 15(7), 1135.

Oleh:

Nur Hidayat 

247055002

1.        Latar Belakang

Erosi tanah merupakan fenomena alam yang bisa dipicu dan diperburuk oleh aktivitas manusia, seperti penggundulan hutan, pertanian yang tidak berkelanjutan, dan perubahan penggunaan lahan. Secara global, hampir 25-40 miliar ton tanah terkikis setiap tahun, di mana erosi tanah yang disebabkan oleh air memainkan peran signifikan, khususnya di Turki. Di Turki sendiri, sekitar 642 juta ton tanah terkikis setiap tahunnya akibat erosi air, dengan jumlah tanah yang terbawa oleh sungai sekitar 154 juta ton per tahun. Jika tren ini terus berlanjut, diperkirakan 1,5 juta km² lahan subur akan hilang pada tahun 2050, yang dapat mengakibatkan hilangnya potensi pertanian dan peningkatan kerugian ekonomi global.

Lahan subur yang hilang karena erosi menyebabkan konsekuensi luas, tidak hanya terhadap keberlanjutan pertanian, tetapi juga terhadap siklus karbon, siklus nutrisi, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat. Erosi tanah juga mempengaruhi daya dukung lingkungan dengan mempercepat sedimentasi di waduk, meningkatkan risiko banjir, dan menciptakan tantangan baru bagi manajemen sumber daya alam.

Masalah yang menjadi fokus penelitian ini adalah peningkatan risiko erosi tanah akibat perubahan penggunaan lahan dan faktor-faktor lingkungan lainnya, seperti kemiringan, jenis batuan dasar, curah hujan, dan aspek drainase. Tujuan utama adalah untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang paling rentan terhadap erosi serta menentukan bagaimana perubahan penggunaan lahan dalam rentang waktu tertentu memengaruhi risiko tersebut. Pertanyaan kunci yang diangkat adalah:

  • Bagaimana distribusi risiko erosi di DAS Bendungan Doğancı dari 2005 hingga 2017?
  • Faktor-faktor apa yang paling berpengaruh dalam menentukan risiko erosi?
  • Bagaimana perubahan dalam penggunaan lahan berdampak pada peningkatan atau penurunan risiko erosi tanah?

Jurnal ini juga menggarisbawahi dampak erosi yang dipercepat oleh aktivitas manusia seperti penggundulan hutan dan pertanian yang tidak terkendali, yang menyebabkan hilangnya lapisan tanah subur, berkurangnya produktivitas tanah, dan akhirnya memicu kelaparan dan kemiskinan di beberapa wilayah. Hilangnya lahan akibat erosi tanah juga mengancam keberlanjutan waduk-waduk yang ada, meningkatkan risiko banjir, dan menyebabkan sedimentasi yang berlebihan.

2.      Tujuan

Penelitian yang dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bendungan Doğancı di Bursa, Turki, bertujuan untuk mengukur risiko erosi tanah serta dampak perubahan penggunaan lahan dalam dua periode waktu, yakni tahun 2005 dan 2017. Studi ini menggunakan pendekatan berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP) yang terintegrasi dengan Geographic Information Systems (GIS), memungkinkan peneliti untuk menilai risiko erosi tanah berdasarkan berbagai faktor topografi dan lingkungan. Dalam konteks ini, penting untuk mengidentifikasi dan memetakan daerah yang paling rentan terhadap erosi untuk memprioritaskan tindakan pencegahan dan mitigasi.

3.      Metode Penelitian

1.      Pemetaan Risiko Erosi

Peta risiko erosi wilayah penelitian untuk tahun 2005 dan 2017 dibuat menggunakan metode AHP terintegrasi GIS yang diterapkan di ArcGIS 10.8

2.      Faktor Risiko Erosi

·         Jenis batuan dasar

Banyak sifat tanah berasal langsung dari bahan induk; Oleh karena itu, ada korelasi yang sangat tinggi antara material induk dan kecenderungan erosi.

·         Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan (LULC)

Dinamika penggunaan lahan/tutupan lahan (LULC) merupakan faktor antropogenik utama yang mempengaruhi degradasi tanah dan kerentanan terhadap erosi tanah.

·         Cuaca Curah hujan

Salah satu elemen iklim terpenting yang mempengaruhi erosi yang terjadi dari tanah lereng bukit atau daerah aliran sungai curah hujan.

·         Dua peta curah hujan Daerah Aliran Sungai

Bendungan Doğancı kemudian dibuat menggunakan metode Schreiber [59] berdasarkan data meteorologi dari dua periode rencana (yaitu, 1995–2005 dan 2007–2017).

·         Peta curah hujan

 Wilayah penelitian dihasilkan dengan metode distribusi jarak terbalik menggunakan alat "IDW" pada "Spatial Analyst Tools" di ArcGIS 10.8.

·         Kelegaan Relatif Relief

yang mewakili perubahan elevasi dan diketahui memiliki hubungan linier positif dengan erosi tanah.

·         Aspek

Aspek adalah salah satu faktor yang dievaluasi dalam studi sensitivitas erosi karena hubungan tidak langsungnya dengan faktor iklim (kapasitas retensi kelembaban, durasi sinar matahari, sudut datang sinar matahari, retensi kelembaban, intensitas Curah hujan, penguapan, dll.)

·         Frekuensi dan Kepadatan Drainase Frekuensi aliran,

Diperoleh dengan membagi jumlah total sungai di dalam cekungan yang tidak mengering sepanjang tahun dengan luas cekungan, mewakili jumlah aliran per satuan luas.

3.      Metode AHP

Metode AHP memberikan hasil yang sukses dalam pengembangan peta risiko erosi karena memungkinkan pemilihan solusi yang paling tepat di antara banyak alternatif dengan mengevaluasi berbagai faktor selama pengambilan keputusan.

4.      Peta Risiko Erosi dan Validasinya

Untuk menghasilkan peta risiko erosi dari area penelitian, pertama, nilai rata-rata tertimbang ditetapkan ke setiap kriteria yang sesuai menggunakan ekstensi "Analis Spasial". Tingkat risiko erosi kemudian ditentukan dengan membandingkan nilai kepentingan relatif dari alternatif. Pada tahap ini, plug-in "extAhp 2.0" digunakan di ArcGIS 10.8 untuk menggabungkan rata-rata tertimbang dari kriteria dan menghasilkan peta risiko erosi.

4.      Hasil Pembahasan

Penulis berfokus pada pendekatan multidimensional untuk mengidentifikasi risiko erosi tanah dengan menggunakan multi-criteria decision analysis (MCDA) dan AHP, sebuah metode yang sudah diakui efektif untuk memecahkan masalah yang kompleks, terutama yang melibatkan berbagai faktor yang saling terkait. MCDA dan AHP dipilih karena kemampuan keduanya untuk mengevaluasi berbagai kriteria, baik kuantitatif maupun kualitatif, dalam proses pengambilan keputusan.

AHP digunakan untuk menimbang faktor-faktor yang berperan dalam risiko erosi, termasuk kemiringan, jenis batuan dasar, penggunaan lahan/penutup lahan, curah hujan, relief relatif, aspek, frekuensi drainase, dan kepadatan drainase. Masing-masing faktor ini diberikan bobot yang berbeda, dengan kemiringan lereng dianggap sebagai faktor paling berpengaruh dengan nilai 0,29. Selain itu, penelitian ini menganggap bahwa tutupan lahan memiliki peran besar dalam mengurangi risiko erosi, di mana lahan berhutan penuh lebih tahan terhadap erosi dibandingkan dengan lahan kosong atau terdegradasi.

Berikut adalah delapan kriteria utama yang dipertimbangkan dalam penelitian:

·         Kemiringan Lereng: Erosi lebih mungkin terjadi di lahan dengan kemiringan curam karena gravitasi meningkatkan laju aliran air yang dapat membawa material tanah. Faktor ini menjadi yang paling signifikan dalam mempengaruhi risiko erosi dengan bobot tertinggi 0,29.

·         Jenis Batuan Dasar: Jenis batuan dasar menentukan karakteristik tanah yang terbentuk di atasnya. Batuan yang lebih rapuh dan mudah terkikis meningkatkan risiko erosi.

·         Penggunaan Lahan/Penutup Lahan: Lahan yang terdegradasi atau kosong lebih rentan terhadap erosi. Hutan dengan tutupan lahan yang penuh memberikan perlindungan terbaik terhadap erosi dengan bobot rendah 0,03, sementara lahan kosong memiliki bobot tertinggi sebesar 0,39.

·         Curah Hujan: Intensitas dan frekuensi curah hujan mempengaruhi erosi tanah, karena hujan yang lebat dapat meningkatkan aliran permukaan dan mengikis tanah.

·         Relief Relatif: Relief atau perbedaan ketinggian dalam suatu daerah memengaruhi laju erosi, di mana daerah dengan perbedaan ketinggian yang besar lebih rentan terhadap erosi.

·         Aspek Lereng: Arah lereng juga mempengaruhi risiko erosi, terutama karena distribusi sinar matahari yang berbeda dapat mempengaruhi laju penguapan air dan tingkat kelembaban tanah.

·         Frekuensi Drainase: Semakin sering aliran air terjadi di suatu daerah, semakin tinggi pula risiko erosi karena aliran air akan membawa partikel tanah.

·         Kepadatan Drainase: Wilayah dengan drainase yang lebih padat menunjukkan potensi aliran air yang lebih besar, sehingga meningkatkan risiko erosi.

5.      Kesimpulan dan Saran

Penelitian ini membuktikan bahwa metode AHP berbasis GIS efektif dalam memetakan risiko erosi tanah di DAS Bendungan Doğancı. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode 2005 hingga 2017, terjadi penurunan risiko erosi di beberapa wilayah. Area dengan risiko erosi sedang hingga tinggi menurun, sementara area dengan risiko erosi rendah dan sangat rendah meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan penggunaan lahan yang tepat, seperti penghijauan dan perbaikan lahan, dapat mengurangi risiko erosi tanah.

Metode AHP dan GIS yang digunakan dalam penelitian ini harus diadopsi dalam studi-studi lain yang serupa, khususnya dalam konteks pengelolaan daerah aliran sungai. Pengambilan keputusan terkait konservasi tanah perlu melibatkan peta risiko erosi yang akurat dan up-to-date, yang dapat digunakan oleh pembuat kebijakan untuk mengidentifikasi area prioritas bagi kegiatan perlindungan tanah. Perlu adanya peningkatan investasi dalam teknologi pemantauan dan perbaikan tanah guna mengurangi dampak erosi di masa mendatang.

6.      Tinjauan Kritis

Strategi utama untuk memecahkan masalah risiko erosi tanah di DAS Doğancı adalah dengan memetakan distribusi spasial risiko erosi menggunakan integrasi AHP dan GIS. Metode AHP memungkinkan para peneliti untuk memberikan bobot pada setiap faktor risiko, sementara GIS memungkinkan pemetaan yang detail dari setiap area yang berisiko.

Langkah-langkah yang diambil dalam penelitian ini mencakup:

1)      Pengumpulan data spasial: Data penggunaan lahan, curah hujan, dan topografi dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk peta kontur dengan skala 1:25.000.

2)      Pemetaan faktor risiko: Setiap faktor risiko diklasifikasikan dan diberi bobot menggunakan AHP. Misalnya, kemiringan lereng dikategorikan menjadi sangat rendah, rendah, sedang, dan tinggi. Kemiringan lebih dari 30% diberi bobot tertinggi karena sangat rentan terhadap erosi.

3)      Pembuatan peta risiko erosi: Peta risiko erosi dibuat untuk tahun 2005 dan 2017 berdasarkan faktor-faktor yang telah diidentifikasi. Hasilnya menunjukkan perubahan yang signifikan dalam distribusi risiko erosi selama periode 12 tahun.

4)      Validasi hasil: Validasi dilakukan menggunakan metode Receiver Operating Characteristics (ROC), yang menunjukkan bahwa peta risiko erosi yang dihasilkan memiliki tingkat akurasi yang tinggi: 72,8% untuk tahun 2005 dan 80,2% untuk tahun 2017.

Penelitian ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk pemantauan berkelanjutan terhadap perubahan penggunaan lahan dan risiko erosi di DAS Bendungan Doğancı. Rencana tindak lanjut mencakup:

1)      Pengembangan strategi mitigasi: Perlu dilakukan intervensi untuk mengurangi risiko erosi di area-area dengan kemiringan tinggi dan lahan terbuka yang rentan terhadap erosi. Upaya rehabilitasi lahan, seperti penghijauan dan reboisasi, harus diprioritaskan di area tersebut.

2)      Peningkatan pemanfaatan teknologi GIS: Metode berbasis GIS harus terus dikembangkan untuk meningkatkan akurasi pemetaan risiko erosi di masa mendatang, serta mempermudah proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan DAS.

3)      Penguatan kebijakan konservasi tanah: Kebijakan konservasi tanah harus diperketat, terutama di wilayah-wilayah yang rawan erosi. Penggunaan lahan yang lebih berkelanjutan, terutama di wilayah dengan aktivitas pertanian intensif, sangat diperlukan.

 

 

Refrensi:

Erdoğan Yüksel, E., Karan, Ö. F., & Akay, A. E. 2024. Spatio-Temporal Analysis of Erosion Risk Assessment Using GIS-Based AHP Method: A Case Study of Doğancı Dam Watershed in Bursa (Türkiye). Forests15(7), 1135.

https://www.mdpi.com/1999-4907/15/7/1135